"Roma tidak dibangun dalam sehari. Langkah besar selalu diawali dengan tapak langkah kecil. Sebuah pemikiran dan cita-cita agung, kadang berasal dari sebuah kata atau impian sederhana. Kadang pula sebuah catatan, memiliki nilai berharga ketimbang monumen atau istana, dan setiap orang mampu untuk menciptakannya."

Senin, 08 April 2013

Weaknes and Strong Leadership


Sahabat pembaca yang bijaksana, izinkan saya menyajikan kembali tulisan mengenai kepemimpinan. Kesekian kalinya saya tidak ingin mengurui sahabat pembaca, karena saya tidak lebih pandai dan berpengalaman dari sahabat pembaca. Saya sekedar menyajikan pemikiran saya sebagai hasil dari pembelajaran saya di lingkungan, dimana saya belajar dan bekerja. Tulisan saya kali ini mencermati mengenai kepemimpinan yang lemah dan kepemimpinan yang kuat. Tentu saja kepemimpinan sesuai versi dan pemahaman saya. Apabila sahabat pembaca merasakan hal yang sama sebagaimana yang saya tulis, semoga menjadi modal bagi tujuan kebaikan yang sahabat pembaca ingin lakukan di lingkungan sahabat berada, tentunya demi kebaikan banyak orang.


Terlebih dahulu, saya ingin membahas mengenai kepemimpinan yang lemah. Sebagaimana kita ketahui bahwa seorang pemimpin ialah mereka yang memiliki kekuasaan untuk mengatur orang lain. Kekuasaan itu bisa berupa jabatan/kekuatan, bisa juga kepandaian/kebijaksanaan, dalam istilah kaum machiavellian ialah virtue and vitality. Namun pada kenyataannya banyak pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang lemah. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin yang lemah adalah kekuasaan palsu (fake of power) karena orang-orang yang dipimpin merasakan keterpaksaan melakukan perintah dibawah hierarki jabatannya. Selanjutnya, apa ciri-ciri kepemimpinan yang lemah itu? Mari kita bahas di sini. Ciri-ciri kepemimpinan yang lemah, antara lain:

1. Anti-kritik, kepemimpinan yang lemah sulit menerima masukan, nasihat, atau aspirasi dari orang lain. Kepemimpinannya angkuh dan merasa dirinya benar dalam kekeliruan sikap dan tutur katanya, itu sangat berbahaya. Apalagi meremehkan orang lain atau istilahnya under-estimate, padahal bisa jadi hikmah/kebenaran itu datang dari mulut seekor anjing, kalo saya boleh mengutip mutiara kata tersebut, dari khazanah keislaman Imam Ali bin Abi Thalib. Artinya bahwa kepemimpinan yang lemah, selalu menutup telinganya untuk mendengar suara dari arus bawah, sudah menutup matanya dari geliat ketidakpuasan para pengikutnya, dan sudah menutup akal sehat bahkan nuraninya dari keresahan karena ketidakadilan yang diakibatkan dari kepemimpinannya. Meski seolah-olah si pemimpin mendengar, melihat, dan merasa, namun hanya sekedar kebohongan semata, alih-alih semacam serigala berbulu domba, mengerikan dan sadis. 
2. Hipokrit, kepemimpinan yang lemah seringkali menjajakan kemunafikan. Lain dimulut, lain dihati, bahkan senang mengadu domba, juga tidak jarang mencari kambing hitam. Jika dalam kisah pewayangan dalam budaya jawa, sikap tersebut mirip seperti, tokoh Patih Sengkuni. Kepemimpinan yang memiliki sikap hipokrit, senang mengumbar kata-kata indah untuk menghipnotis orang lain. Kemampuan verbalnya mampu melakukan probing, serta rayuan yang bisa membius seseorang untuk setuju, mengakui, apa yang diinginkannya. Namun apa yang di utarakan itu jauh dari sikap dan perbuatannya, hanya sebatas lip-service. Meminta orang lain mentaati aturan, namun dirinya justru sering menyepelekan aturan, bahkan melanggar aturan. Kegemarannya mengadu domba pun menjadi alat baginya untuk menikam orang lain tanpa harus memegang pisau dengan tangannya sendiri. Sepintas sikap ini memang terkesan cerdik, namun ibarat karat memakan besi, kepemimpinannya lemah dan rapuh. Sebab apabila domba yang di adunya itu semua berkumpul dan bersekutu, maka kepemimpinannya sudah tidak lagi memiliki arti. 
3. Individualistik, merupakan sikap kepemimpinan yang lemah karena merasa dirinya paling tahu segala hal, paling pandai, dan kompeten, sehingga enggan mengakui prestasi orang lain. Bahkan tidak segan-segan memanfaatkan dan mengeksploitasi orang lain, hanya untuk kepentingannya sendiri, lantas melangkah begitu saja tanpa berterima kasih karena takut dianggap berhutang budi. Setiap tujuan yang hendak dicapai dalam kepemimpinannya pada dasarnya hanya untuk keserakahan dan ambisi pribadi. Tidak mempedulikan jerih payah orang lain, tidak memberikan apresiasi yang layak, bahkan tanpa disadari melakukan bahasa sarkasme yang menyinggung perasaan orang disekitarnya. Sikap ini sangat melemahkan, karena tidak saja menimbulkan sikap kontra/permusuhan dari para koleganya, namun juga menciptakan ‘api dalam sekam’ diantara orang-orang dalam kepemimpinannya. Artinya kepemimpinan seperti ini terpenjara dari luar maupun dari dalam, rentan perpecahan, dan tentu saja membuat organisasi sakit dan lemah.
Inilah tiga hal yang menjadi ciri kepemimpinan yang lemah, saya percaya sahabat pembaca tidak mudah sepakat dengan apa yang saya tulis. Namun sahabat yang bijaksana bisa melakukan analisa sendiri, bahkan melakukan komparasi terhadap apa yang sahabat lihat dan rasakan dilingkungan masing-masing. Untuk melengkapi ciri kepemimpinan yang lemah tersebut, saya pun memiliki ciri kepemimpinan yang kuat sebagai antitesa dari kepemimpinan yang lemah tadi. Disamping itu, saya ingin membagi harapan, bahwa hal-hal baik selalu memiliki ruang ditengah-tengah kezaliman dan kesewenang-wenangan. Setiap orang bisa mewujudkannya, terlebih bagi sahabat pembaca yang diberi amanah untuk menjadi seorang pemimpin. Adapun ciri-ciri kepemimpinan yang kuat, yaitu:
1. Aspiratif, sebagai sikap terbuka terhadap masukan dan kritik serta peduli terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Mengutamakan keadilan tanpa sungkan atau takut terhadap keputusan yang diambilnya, demi memperbaiki pola kepemimpinannya. 
2. Trusty/Terpercaya, sebagai nilai etis dan moral utama yang membuatnya dirinya diikuti tanpa keterpaksaan. Apa yg diucapkannya, sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Menjadi contoh teladan tanpa harus mengumbar kata-kata manis, atau kata-kata sindiran kepada orang yang dipimpinnya. Bahkan sanggup membangun kepercayaan diri kepada orang yang dipimpinnya atas dasar profesionalitas, bukan atas dasar gaya kepemimpinan feodalistik. 
3. Guyub/gemeinscaft, jika boleh mengambil istilah tersebut dari sosiolog Jerman, Ferdinand Tonnies. Akur secara bersama menjaga kolektifitas kelompok atas dasar kepedulian sangat penting bagi Kepemimpinan yang kuat. Kemampuan menjaga hubungan baik dengan para koleganya sangat penting. Menjaga sportifitas dan memberikan penghargaan bagi prestasi orang lain akan menambah rasa hormat terhadap kepemimpinannya, dan tentu saja akan mudah memperoleh bantuan dari kolega lain. Demikian pula kepada orang-orang yang dipimpinnya, dengan sikap guyub, kepemimpinan menjadi kokoh secara internal, karena semua individu di dalamnya saling gotong royong, menjadi penyokong bagi yang lain, tidak ada diskriminasi, anak emas atau anak tiri, semuanya menyatu dan saling bahu membahu.
Sahabat pembaca yang setia pada niat baik, demikian ciri-ciri kepemimpinan yang dapat saya sampaikan, sahabat pembaca boleh setuju, boleh juga tidak, bagi saya tulisan ini adalah pandu bagi saya untuk terus belajar menjadi pribadi yang baik, dan semoga juga bermanfaat bagi sahabat pembaca semua.
(090413)

Minggu, 05 Agustus 2012

RiSALAH KEPEMIMPINAN (Jilid 3 Selesai)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari jilid 1 dan 2, dan untuk kesekian kali penulis tidak bermaksud mengurui para pembaca. Tulisan ini pun bukan sekedar khayalan atau fiksi imaginer namun hasil telaah penulis terhadap pengalaman pribadi penulis sendiri. Peran aktif penulis dalam berorganisasi ditingkat sekolah menengah dan tingkat atas, di lingkungan kampus dan partisipasi dalam kegiatan masyarakat, sedikit banyak memberikan inspirasi dalam penulisan 3 jilid risalah kepemimpinan ini. Penulis pernah memiliki kesempatan belajar menjadi ketua, sekretaris, dan anggota dalam struktur organisasi. Hasil dari pembelajaran tersebut, penulis coba terjemahkan kedalam tulisan. Sehingga tidak hanya sebagai bahan pengingat dan acuan bagi penulis pribadi, namun diharapkan pula menjadi bahan referensi sederhana kepada rekan-rekan pembaca.

Risalah kepemimpinan jilid 3 ini adalah rangkaian terakhir dari tulisan penulis mengenai risalah kepemimpinan. Pada jilid terakhir ini, penulis coba mengulas perilaku berkepemimpinan kedalam tiga tindakan (Three Act’s of Leader). Jilid 3 ini merupakan jilid implementasi dari jilid sebelumnya, sehingga lebih mengacu kepada hal-hal yang bersifat taktis. Berikut ini ulasannya:

1.    Supportcircle with Opforline, yaitu seorang pemimpin dalam melakukan tindakan taktis membutuhkan pengetahuan mengenai lingkaran pendukung (supportcircle) dengan garis lawannya (opforline). Sebelum bertindak, pemimpin sudah lebih dulu menghitung modal dan perangkat yang dimiliki, siapa kawan dan pengikutnya yang memiliki loyalitas penuh terhadap pribadi dan pemikirannya. Pemimpin yang berperilaku baik, tentu lebih mudah dan lebih banyak memiliki lingkaran-lingkaran pendukung. Seperti apa pemimpin yang baik itu, silakan baca kembali pada jilid 2 ditulisan sebelumnya. Memilih dan menentukan anggota dalam lingkaran pendukung tidak mudah. Jika komunikasi tidak optimal bisa mengakibatkan kecemburuan struktural organisasi. Pemimpin harus bisa merajut lingkaran yang bersifat mutualis. Lingkaran tersebut harus diberikan kesadaran akan kelebihan dan kekurangan individu masing-masing. Lingkaran pendukung harus memiliki sifat terbuka dan kepercayaan antara individunya. Jika ingin lingkaran kuat, pemimpin harus bisa menjadi teman dan saudara bagi mereka, dan jangan pernah mengistimewakan salah satu dari yang lain. Distribusikan tugas dan tanggung jawab yang merata dan jelas kepada lingkaran pendukung. Untuk menunjang kesempurnaan peran lingkaran pendukung, pemimpin harus memiliki garis lawan (opforline). Maksudnya, pemimpin harus bisa menciptakan lawan diluar tubuh organisasi. Hal tersebut memiliki manfaat, agar energi berpendar keluar, bukan saling jegal dan ambisi sempit untuk menjatuhkan sesama rekan. Pemimpin harus menghadirkan sosok pesaing di luar struktur organisasi, sebagai contoh, perusahaan/institusi/organisasi A, membentuk garis lawan bersifat vis a vis (berhadapan) terhadap perusahaan/institusi/organisasi B. Arti lawan disini dapat diartikan dalam hal persaingan daya kreatifitas, persaingan mutu produk, atau persaingan fasilitas pelayanan.
2.      Brightspace with Blackspot, yaitu seorang pemimpin dalam bertindak taktis membutuhkan kedewasaan diri dalam menunjukan ruang cerah (brightspace) dengan titik hitam (blackspot) dalam organisasi. Dalam bertindak, seorang pemimpin harus menunjukan keyakinannya bagi masa depan organisasi dan pengembangan masa depan individu didalamnya. Sehingga dalam melakukan tugas dan tanggung jawab, anggota organisasi bersemangat untuk kemajuan bersama. Jangan pernah menghalangi individu yang maju dan berkembang, apalagi menganggapnya sebagai ancaman, justru mereka harus didukung sebagai aset penting bagi organisasi. Pemimpin harus berani memberikan insentif, bagi anggota organisasi yang berhasil melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sehingga sebelum tugas dilaksanakan, pemimpin harus membekali anggotanya melalui briefing. Dalam briefing tersebut, bangunkan semangat para anggota dan yakinkan bahwa tugas tersebut adalah untuk masa depan mereka, jangan pernah mengambil kata-kata yang bersifat ancaman yang tertuju pada individu. Tapi ambil ungkapan-ungkapan yang bernada blackspot (titik hitam). Artinya apabila tugas mengalami kendala atau kegagalan itu ditujukan sebagai kegagalan organisasi. Dengan demikian, setiap anggota organisasi akan berusaha agar organisasinya tidak mengalami kegagalan, dan akan muncul rasa militansi dalam memiliki organisasi. Kepercayaan yang diberikan tersebut, dengan sendirinya, akan memunculkan individu sportif yg mengakui kesalahannya apabila dia berbuat salah terhadap organisasi. Bagaimana bila pemimpinnya yang salah? Silakan baca tulisan sebelumnya pada jilid 1 dari tulisan ini.
3.    Playmaker with Kingmaker, yaitu seorang pemimpin dalam setiap tindakan taktisnya tidak hanya berperan sebagai pengatur permainan (playmaker) namun juga mendidik pengantinya (kingmaker) setahap demi setahap. Kegiatan atau tugas yang dijalankan sebuah institusi/organisasi tidak melulu ditangani langsung oleh seorang pemimpin sebagai eksekutor/pelaksana. Pemimpin dapat berperan sebagai playmaker yang tidak harus sebagai striker pencetak gol ke dalam gawang. Dia justru memberikan umpan-umpan kepada para eksekutor lapangan. Mengarahkan pola-pola penyerangan, bahkan mampu turut membantu lini pertahanan. Bahkan saat terjadi kebuntuan serangan, playmaker dapat membuat terobosan baru untuk berusaha memenangkan pertandingan. Terobosan baru dalam tindakan taktis merupakan suatu keniscayaan bagi seorang pemimpin. Tentu saja tidak dengan cara-cara yang melanggar aturan permainan. Peran pemimpin sebagai playmaker pun pada dasarnya memberikan didikan/kaderisasi bagi kemajuan organisasi, khususnya bagi calon-calon pengantinya di masa mendatang. Pemimpin harus bisa menjadi pengkader (kingmaker), melalui proses bertahap dan bukan instan. Pemimpin harus jeli melihat potensi-potensi yang kelak dapat mengantikan dirinya, maka pemimpin tidak boleh kikir dengan ilmu dan ide-ide masa depannya. Pemimpin dalam hal taktis, harus berani memberikan tugas dan tanggung jawab kepada orang pilihannya agar dapat membuktikan kemampuan yang dimilikinya. Jangan terlalu banyak mendikte, biarkan peserta kader melakukan kreatifitas dan inovasi baru dalam tugas-tugasnya. Pemimpin hanya perlu membimbingnya agar setia pada jalur visi dan misi organisasi.

Demikianlah tiga hal terkait tindakan pemimpin dalam tulisan terakhir dari rankaian risalah kepemimpinan. Jika rekan pembaca menganggap tulisan ini sekedar ambisi pribadi dari penulis, anggapan tersebut boleh-boleh saja. Atau rekan pembaca memandang tulisan ini, terlalu utopia karena pada kenyataannya apa yang tertulis tidak serta merta mudah diimplementasikan ke dalam praktek lapangan. Pandangan itu pun boleh-boleh saja. Sekali lagi penulis tekankan, bahwa tulisan ini bukan untuk mengurui, tapi sebagai arsiparis pengalaman penulis selama aktif dalam organisasi. Kalaupun tulisan ini dapat memberikan manfaat sebagai bahan referensi bagi rekan pembaca yang dalam posisi memimpin, penulis turut berharap semoga pembaca dapat menjadi pemimpin yang baik. Karena penulis pun bagian dari masyarakat kebanyakan yang merindukan munculnya sosok-sosok pemimpin yang baik, yang dapat mengayomi dan memperjuangkan kebaikan bagi sesama.

(060812)

Senin, 09 April 2012

RISALAH KEPEMIMPINAN (Jilid 2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Tulisan ini adalah hasil dari pengamatan deskriptif, analisa lapangan, dan interaksi sosial yang selanjutnya disedimentasikan dalam pemahaman penulis. Sehingga isi dari tulisan ini bukan untuk digeneralisasi kepada setiap pembacanya. Adapun kesamaan pandang atau kesamaan pengalaman, mungkin menjadi hal kebetulan bagi penulis dan pembaca tulisan ini. Sedangkan ketidaksamaan pemikiran merupakan suatu kewajaran, karena risalah kepemimpinan jilid 2 ini adalah pemahaman subyektif penulis. Apabila tulisan ini dapat memberikan inspirasi dan pemicu bagi pembacanya, hal demikian semata-mata hanya kearifan dari pembaca yang telah bersedia menerima opini dan pemikiran dari penulis.

Risalah kepemimpinan jilid 2 diperuntukan bagi setiap pribadi yang ingin mengembangkan kepemimpinan dalam diri. Sudut pandang dari risalah kepemimpinan jilid 2 ini hanya memiliki arah menuju sikap-sikap kebaikan dari seorang pemimpin kepada lingkungannya. Sikap baik yang dimaksud adalah sikap yang tidak merugikan, mengintimidasi, dan mencelakakan orang lain. Risalah kepemimpinan jilid 2 ini menawarkan tiga prinsip bagi pemimpin (Three-Principle for leader), yang berisi sebagai berikut:

  1. Grail of hope principle’s, seorang pemimpin perlu menyadari kalau dirinya ialah tempat menaruh harapan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin ibarat cawan/wadah harapan bagi banyak orang. Sikap keterbukaan dan lapang dada menjadi syarat bagi terwujudnya cawan harapan dalam diri seorang pemimpin. Keterbukaan menjadikan diri pemimpin mudah diterima orang lain, mudah berkomunikasi, mudah menyampaikan dan menerima pesan dari orang lain. Keterbukaan merupakan cara efektif dalam berinteraksi, karena melalui keterbukaan akan tumbuh kepercayaan (trust), dan pemimpin yang dapat dipercaya/amanah adalah seorang pemimpin yang sesungguhnya. Sedangkan lapang dada/legowo bagi seorang pemimpin adalah cara bagi pemimpin agar memiliki ketenangan sikap. Sikap yang tenang memudahkan pemimpin melihat persoalan dengan jelas dan dapat menentukan keputusan yang jelas dan tepat dalam menghadapi persoalan tersebut. Seumpama air dalam kolam, jika air bergejolak maka dasar kolam tak dapat terlihat. Sebaliknya jika air dalam kolam tenang maka seluruh isi kolam dapat terlihat dengan jelas. Diri pemimpin yang memiliki prinsip sebagai cawan harapan (Grail of hope) juga membutuhkan kesadaran bahwa dirinya akan dihujani banyak keinginan atau tuntutan dari lingkungan yang dipimpinnya. Sehingga pantang bagi pemimpin untuk mengeluh, bahkan menunjukan kelemahan di depan publik. Apabila ada keinginan atau harapan dari lingkungan yang tidak sanggup dipenuhi, maka selayaknya seorang pemimpin melepaskan kepemimpinannya. Tindakan lain yang patut diambil dari pemimpin yang tidak sanggup memenuhi harapan lingkungan adalah memberikan mandat tugas kepemimpinan kepada orang yang dipercayanya (tangan kanan), untuk sementara waktu sebelum adanya pemimpin yang baru.
  1. Fountain of sacrifice principle’s, pemimpin yang baik dan bijaksana memiliki jiwa pengorbanan tinggi. Bahkan pengorbanannya seperti mata air yang tak henti mengalir, menuruni tempat-tempat yang rendah, dan memberi banyak manfaat bagi lingkungannya. Sebuah pengorbanan akan terasa menyiksa, apabila dinilai dengan untung rugi materi. Namun sebuah pengorbanan akan menjadi kepuasan batin, apabila dinilai dengan senyum sukacita banyak orang yang telah dibantu dan dibela hak-haknya. Logika sederhana dari pemahaman filsuf Aristoteles, mengenai ‘zoon politicon’ yaitu manusia sebagai mahluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, dan membutuhkan orang lain, membutuhkan bantuan, membutuhkan pengakuan diri. Sehingga manusia yang memiliki kesadaran tinggi, memiliki pemahaman bahwa dirinya merupakan obyek kebutuhan bagi manusia lain, maka dia akan menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Bermanfaat artinya dapat memberikan apa yang orang lain butuhkan. Maka bagi seorang pemimpin, pengorbanan adalah memberikan apa yang bermanfaat bagi lingkungan yang dipimpinnya. Ia akan mengorbankan perasaannya, untuk berlaku adil, member sanksi bagi yang salah, memberi penghargaan bagi yang memperjuangkan kebenaran, bukan hanya kepada orang yang dipimpinnya, namun kepada dirinya sendiri. Berlaku adil pada dirinya sendiri adalah pengorbanan. Selain itu ia akan mengorbankan pikirannya, yaitu untuk tidak mencari cara memanfaatkan kepemimpinannya untuk kepentingan pribadi. Pemimpin yang baik akan mencurahkan pikirannya untuk mencari cara mengangkat harkat, martabat, kemuliaan, kedamaian, bahkan kesejahteraan orang yang dipimpinnya. Karena hakikat dari keagungan pemimpin adalah bagaimana ia bisa mengagungkan orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang baik, ialah dia yang juga mampu mengorbankan perilakunya. Artinya, ia harus dapat memelihara sikap egoisnya, yaitu apabila marah tetap santun dalam kemarahannya, apabila sedih tetap tersenyum dalam kesedihannya, apabila kecewa tetap semangat dalam kekecewaannya, dan apabila gembira tetap sederhana dalam kegembiraannya. Hal tersebut memang sulit, namun melakukan yang sulit itu adalah pengorbanan namanya, dan yang mampu melakukannya hanyalah seorang pemimpin sejati.
  1. Hand of God principle’s, pemimpin bukanlah manusia biasa. Apabila seorang pemimpin merasa dirinya biasa saja, maka ia harus melepaskan kepemimpinannya. Tugas dan tanggung jawab pemimpin sangat besar, sehingga pemimpin harus yakin pada kemampuannya. Ia pun harus sadar bahwa perannya adalah mulia dan pembawa kebaikan. Ia adalah eksekutor dari sifat ketuhanan, maka ia seumpama tangan tuhan di atas bumi ini. Adil adalah sifat tuhan, maka pemimpin memikul tindakan mencapai kebijaksanaan. Kasih adalah sifat tuhan, maka pemimpin memikul tindakan memberi kedamaian. Kuasa adalah sifat tuhan, maka pemimpin memikul tindakan mengelola kehidupan. Seorang pemimpin harus bangga dengan tugas dan tanggung jawabnya, karena secara logika pemimpin adalah posisi tertinggi dalam kehidupan setelah tuhan, dan dia adalah utama (primus interpares) diantara individu lain dilingkungannya. Dengan pemahaman seperti itu, seorang pemimpin tidak lagi sibuk dengan keserakahan, kesombongan, atau kesemena-menaan. Justru sebaliknya, pemimpin sibuk untuk membahagiakan orang-orang yang dipimpinnya, menjaga dan memelihara sifat ketuhanan yang diamanahkan kepadanya. Apabila ada seseorang yang memiliki kursi/jabatan kepemimpinan dan berlaku serakah, diskriminatif, kejam, dan meresahkan banyak orang, maka dia bukan seorang ‘pemimpin’ tapi dia hanya seorang ‘penguasa.’ Apa bedanya pemimpin dengan penguasa? Pemimpin adalah penguasa, penjaga, dan pemelihara. Sedangkan penguasa sekedar pemegang kekuatan material, seperti finansial, tata aturan, atau hirarki. Sehingga tidak jarang penguasa digulingkan oleh lingkungannya sendiri, karena finansial yang dimiliki tidak dapat membeli rasa hormat dari lingkungannya, tata aturan yang dibuat pun tidak dapat memaksa lingkungan untuk mengikuti perintahnya, dan hirarki yang ada pada dirinya tidak dapat menekan lingkungannya untuk tunduk pada kesewenang-wenangannya. Dengan kata lain, seorang pemimpin adalah seorang penguasa, namun seorang penguasa bukanlah seorang pemimpin.

Ketiga prinsip ini dapat dimiliki dan dipahami bagi para pemimpin yang baik. Kepada para pemimpin yang memiliki kursi/jabatan kepemimpinan, mereka adalah orang-orang pilihan tuhan yang memiliki tugas dan tanggung jawab memberikan kebaikan kepada banyak orang dilingkungannya. Kepada individu yang tidak memiliki kursi/jabatan kepemimpinan, namun sikap dan perilakunya mencerminkan kepemimpinan, atau bahkan banyak orang dilingkungannya menilainya pantas untuk jadi pemimpin, maka sejatinya ia adalah pemimpin. Kursi/jabatan kepemimpinan hanyalah simbol, namun hakikat/makna pemimpin itu ada di dalam hati, siapapun dia yang dapat mewujudkannya, maka ia sudah menjadi seorang pemimpin.

(090412)

Minggu, 25 September 2011

RISALAH KEPEMIMPINAN

Tulisan ini tidak lebih lengkap dari buku-buku tentang managerial, management, atau leadership skill. Tulisan ini sekedar mencoba merangkum beragam kisah serta pengalaman dari banyak tipe kepemimpinan, juga gaya memimpin perorangan dilingkungan masyarakat. Tulisan ini pun, sekedar memberikan refleksi bagi setiap pemimpin, calon pemimpin, atau mereka yang merasa bukan pemimpin namun memiliki bakat jadi pemimpin. Karena kepemimpinan adalah hal yang bisa dimiliki setiap orang. Kepemimpinan bisa diwariskan (assign), bias diraih (achieve), dan bisa diberikan (ascribe). Kepemimpinan pun bisa dipelajari, diantara dari mereka menganggapnya sebagai seni, lainnya menganggap sebagai amanah/tanggung jawab, sebagian lain merasakannya sebagai beban. Bagi yang merasakan sebagai beban, semoga tulisan ini setidaknya bisa memberi tempat untuk mengurangi beban. Bagi yang memandangnya sebagai amanah, mudah-mudahan tulisan ini sedikit mengairahkan kembali semangat menjunjung nilai kebaikan. Sedangkan bagi mereka yang menjalaninya sebagai seni, tulisan ini diperuntukan sebagai pemicu kreatifitas dalam memimpin.

Memimpin adalah cara mengelola sekelompok orang untuk mencapai tujuan. Proses pengelolaan, beserta kendala yang dihadapi dalam kepemimpinan, di dalam tulisan ini disebut sebagai risalah kepemimpinan. Ada 3 poin sederhana yang menjadi rumusan dalam risalah kepemimpinan ini. Pembahasannya sebagai berikut:

1. Single Way Mission

Misi/tujuan tunggal (single way mission) adalah hal penting yang harus dimiliki setiap pemimpin dan calon pemimpin. Sebagai contoh, seorang jenderal perang hanya memiliki satu tujuan yaitu ‘kemenangan.’ Seorang direktur perusahaan, satu tujuannya ialah ‘keuntungan.’ Satu arah tujuan dimaksudkan agar pemimpin tetap fokus melangkah dan mengambil keputusan. Sulit bagi pemimpin bersikap konsisten apabila memiliki beragam tujuan. Selain itu dapat pula memecah konsentrasi para pengikutnya (followers). Pecahnya konsentrasi bisa melemahkan kinerja kelompok/organisasi. Keep on the track, apabila boleh mengambil istilah demikian. Single Way Misson bisa juga dianggap sebagai ideologi kelompok. Perlu kemudian disosialisasikan keseluruh followers. Bahkan sangat tepat, bila hal tersebut masuk dalam misi organisasi. Mengapa demikian? Alasannya adalah untuk menghindari anomali otoriterian. Seringkali terjadi, tujuan/misi yang dimiliki pemimpin hanya untuk kepentingan pribadinya, dan itu sebuah kekeliruan. Single Way Mission ini ialah konsep tujuan utama, tujuan tunggal, yang lahir dari pemikiran seorang pemimpin dan ditujukan untuk kepentingan dia juga followers-nya. Keseragaman persepsi akan arah tujuan antara leader dan followers membuat organisasi menjadi kuat dan efektif. Pasalnya, dengan sinkronisasi persepsi, program dapat dirancang secara tepat guna, kendala dapat di inventarisir, kegagalan dapat diminimalisir bahkan bisa mengapai keberhasilan yang mungkin tidak pernah disangka-sangka. Maka ada baiknya, seorang pemimpin memiliki single way mission yang berkiblat pada masa depan organisasi, kepada kebaikan banyak orang, kepada perbaikan lingkungan, bahkan bisa mensejahterakan. Apakah ini terkesan sulit dan muluk-muluk? Tidak, sebab bagi para pemimpin atau calon pemimpin yang baik, secara sadar nuraninya akan selalu mengiring sikap dan pikirannya untuk selalu setia pada tujuan-tujuan kebaikan.

2. Fellowship of Man

Keterikatan dan kebersamaan antara pemimpin dan followers-nya harus selalu dijaga dan dipelihara. Profesionalitas posisi tugas dan tanggung jawab antara leader dan followers tidak boleh membuat jurang pemisah antara satu dan lainnya. Sebaliknya kedekatan antara leader dan followers tidak boleh menimbulkan disfungsi kewibawaan pemimpin dimata followers-nya. Maka untuk menjaga hal tersebut, pemimpin atau calon pemimpin harus bisa menjaga sikap, menjaga omongannya. Pemimpin yang baik tidak menuntut sesuatu apapun dari followers-nya, sebelum dia sendiri melakukan apa yang dituntutnya itu. Contoh, followers diminta bekerja rajin, bekerja giat, maka leader terlebih dahulu bekerja lebih rajin dan lebih giat. Selain itu untuk menjaga kebersamaan dengan para pengikutnya, pemimpin yang baik mendengar,menerima, dan mengelola aspirasi followers-nya. Bahkan tidak menunggu adanya pengaduan dari followers, tapi pemimpin harus sering bertanya mengenai kondisi dan kendala para followers-nya. Apabila ada ketidaksanggupan dalam mengelola aspirasi, pemimpin harus berdiri di depan mereka dan menjelaskan secara gamblang dan transparan akan kendalanya. Sehingga masalah yang dihadapi pemimpin bisa menjadi masalah bersama, untuk dicarikan solusi bagi kebaikan kedua pihak. Perilaku ini bisa menumbuhkan tingkat kepercayaan kepada pemimpin dan organisasi yang dipimpinnya. Hukuman dan imbalan yang pantas juga harus diberlakukan untuk menjaga kewibawaan pemimpin. Jika followers sudah mulai mengendus/mengindikasi pemimpinnya tebang pilih, meng-anak emas-kan, atau mendiskriminasi satu dengan lainnya, maka pemimpin akan kehilangan trust/kepercayaan dari para pengikutnya. Hal tersebut harus dihindari. Jika pemimpin menghukum salah satu followers-nya, harus dijelaskan apa duduk perkaranya, dan followers yang lain bisa memahaminya. Jika imbalan/reward diberikan karena prestasi dari salah satu followers-nya, maka harus dijelaskan prestasi apa yang sudah diperoleh. Sehingga para pengikutnya bisa bekerja secara profesional dan sportif. Lantas bagaimana bila pemimpin melakukan kesalahan atau kekeliruan? Itu mudah, bagi pemimpin harus berani mengakui kesalahan, seburuk apapun itu. Jika followers sudah memiliki kesetiaan tinggi, mereka bisa dengan mudah memaafkan. Bahkan pemimpin yang baik, akan menebus kesalahannya itu dengan prestasi yang lebih baik lagi, lebih bijaksana, dan lebih berhati-hati dalam melangkah.

3. Ridding The Risk

Setiap pemimpin pasti selalu membuat keputusan. Masalah mendasar bagi pemimpin adalah keberanian mengambil keputusan yang memiliki resiko tinggi. Terlalu banyak sikap ragu-ragu, membuat pemimpin menjadi lamban dan penakut. Maka sikap ragu-ragu dapat diatasi apabila pemimpin memiliki kedekatan dengan followers-nya, memiliki kepercayaan kepada para followers-nya. Ada istilah, ‘pasang badan’ maka pemimpin yang baik, saat memutuskan mengambil keputusan beresiko tinggi, dia harus berani berdiri paling depan. Apabila keputusan yang diambil ternyata memiliki implikasi merugikan organisasi, seorang pemimpin harus berani menghadapi. Jika keberanian ini ditunjukan, maka followers-nya yang sudah dekat mengenal dirinya akan setia mendampinginya dalam kondisi separah apapun. Followers akan menyadari, bahwa keputusan yang diambil pemimpinnya itu menjadi tanggung jawab bersama. Apabila followers dengan kesetiaannya dapat bersikap seperti demikian, secepatnya organisasi dapat pulih kembali. Mengapa? Karena followers memiliki keyakinan kepada pemimpinnya yang menjunjung tinggi tanggung jawab kepada kelangsungan hidup organisasi. Seorang pemimpin yang memiliki kesungguhan dalam memperbaiki implikasi dari keputusan yang diambilnya, dapat dinilai dimata followers. Mereka (followers) akan dengan mudah membantu pemimpinnya. Maka pemimpin jangan pernah takut untuk mengambil keputusan, meski kadang beresiko tinggi. Bila keputusan itu salah dan merugikan, maka hal itu menjadi pelajaran berharga bagi organisasi, bagi pemimpin dan followers-nya. Mereka akan lebih tangguh dan lebih matang dalam mengelola organisasi. Bila keputusan yg beresiko itu ternyata memiliki implikasi keberhasilan, maka hal itu menunjukan adanya akurasi pertimbangan dan kepekaan intuisi seorang pemimpin. Artinya pemimpin tersebut memiliki bakat sebagai pemimpin/assign leader. Pemimpin seperti ini, selalu ditunggu followers-nya untuk membuat terobosan-terobosan baru dalam organisasi.

Tiga poin rumusan mengenai risalah kepemimpinan ini, mungkin sudah dirasakan sebagian orang. Bahkan jika mau diselami lebih jauh, melalui 3 poin ini, seorang pemimpin tidak perlu takut kepada para penggantinya nanti, yaitu para calon-calon pemimpin baru. Sebab pemimpin yang baik, yang menjadi panutan followers-nya, akan dilanjutkan prestasi dan kebaikannya. Bahkan para penggantinya nanti menjadikan pemimpin terdahulu, sebagai referensi inspirasi untuk kemajuan organisasi. Menjadi role model, bagi para penerusnya. Namanya, juga kebaikannya, tidak pernah sepi diceritakan. Mereka, para pemimpin yang melangkahkan kaki pada nilai-nilai kebaikan, keberadaannya selalu disenangi orang, dan ketiadaannya akan dirindukan banyak orang. Pemimpin yang baik, ialah pemimpin yang dalam perjalanan kepemimpinannya mampu memberi kontribusi bagi kemajuan organisasi. Berpihak pada kepentingan kelompok/organisasinya. Apakah itu merupakan perkara mudah? Jawabnya, ada pada diri pemimpin dan calon pemimpin yang setia pada tujuan-tujuan kebaikan dan perbaikan.

(260911)

Minggu, 19 Juni 2011

MANUSIA SETENGAH DEWA

Patung dewi keadilan itu berdiri memegang neraca dengan mata tertutup. Sebuah simbol purba dari masa ke masa akan persamaan di hadapan hukum. Demi mencapai keteraturan hidup, perlindungan terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban, serta perolehan keadilan yang layak bagi setiap orang, maka hukum sebagai peraturan pun diciptakan. Supaya hukum bisa terselenggara, dibentuk pula beragam perangkat dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Namun peradaban manusia terus tumbuh, dan berkembang, melahirkan perilaku kompleks dalam sendi-sendi kehidupan manusia itu sendiri. Hukum yang muasalnya menjaga keteraturan pelaksanaan hak dan kewajiban, dalam perjalanannya dihadapkan dengan kekuasaan dan keserakahan. Hukum yang muasalnya ada untuk melindungi semua orang, dalam perjalanannya justru dimanfaatkan untuk melindungi sebagian orang. Sebut saja sebagian orang itu adalah elit penguasa atau kalangan borjuasi yang mengkhianati hukum karena melakukan pelanggaran aturan demi kepentingan pribadi atau golongan. Lebih menyedihkan lagi pelanggaran aturan dilakukan para perangkat hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan. Banyak dari mereka justru mengotori rumahnya sendiri dengan menjual hukum demi keserakahan.

Membaca hukum adalah membaca keadilan, menyuarakan hukum adalah menyuarakan keadilan, menegakkan hukum adalah menegakkan keadilan. Hukum adalah bentuk dari keadilan yang disusun dalam peraturan tertulis, atau marka yang bisa dilihat dengan kasat mata. Sehingga hukum yang tidak menyentuh rasa keadilan, adalah hukum yang mati. Semisal, seseorang yang kelaparan melakukan pencurian makanan untuk hidup, dibandingkan dengan seorang kaya raya melakukan tindakan pencurian uang Negara untuk keserakahan, maka rasa keadilan harus ditimbang dalam penerapan hukum. Meski pola/jenisnya sama, yaitu pencurian, namun hukum yang memiliki rasa keadilan dapat menempatkan kedua perkara tersebut secara proporsional. Seseorang yang mencuri karena kelaparan tentu berbeda dengan seseorang yang mencuri karena keserakahan. Bahkan jika melihat substansi keadilan, seharusnya seseorang yg mencuri karena kelaparan, harus dibebaskan. Karena fungsi Negara untuk memberikan kehidupan yang layak, atau mengkondisikan kemudahan bagi rakyat untuk menafkahi diri, tidak berjalan dengan baik. Lain halnya dengan seseorang yang jelas-jelas mencuri uang Negara, harus menerima hukuman berat, karena telah mengkhianati dan melakukan pelecehan terhadap institusi Negara. Jika tidak memperoleh hukuman berat, maka Negara itu sendiri dianggap sebagai Negara pesakitan “Sicker’s State.” Tentunya akan memunculkan para monster bandit elit yang akan mengerogoti Negara, hingga Negara tidak lagi memiliki legitimasi dimata rakyat. Lantas apa guna institusi/organisasi Negara tanpa legitimasi dari rakyat sebagai anggotanya.

Fiat Justitia Ruat Caelum, keadilan harus ditegakkan meski langit runtuh, hanya terdengar usang ditelingga para aparatur hukum dan elit penguasa. Kalau mereka tidak berani menegakkan hukum yang berkeadilan, lalu siapa yang akan melakukannya. Kalau mereka yang menciderai dan meruntuhkan bangunan hukum, lalu untuk apa ada institusi hukum. Kalau rakyat merasa keadilannya terancam, maka apa guna seorang penguasa yang dipilih untuk mengelola hidup rakyat. Maka seringkali keserakahan, mengkebiri prinsip demokrasi itu sendiri dan menjadikannya aristokrasi atau oligarki. Bagi para aparatur hukum dan elit penguasa yang masih memiliki nurani dan idealisme, mutlak bagi mereka menegakkan keadilan meski langit runtuh. Berani bertindak dan melakukan terobosan yang berarti. Mereka adalah pengelola Negara, mereka adalah milik Negara, milik rakyat. Maka mereka harus membela kepentingan Negara dan rakyat banyak, bukan membela kelompok, teman, saudara, atau bahkan keluarganya. Apa saja yang mereka kenakan, fasilitas apa saja yang mereka gunakan, bahkan gaji dan tunjangan yang mereka bawa pulang, muasalnya adalah keringat rakyat yang dikumpulkan dalam bentuk pajak. Maka sejatinya para aparat penegak hukum dan elit penguasa bekerja untuk melayani rakyat banyak. Apabila mereka tidak berani dan tidak lagi sanggup memberikan rasa keadilan dalam mengelola hukum, mereka harus mengundurkan diri dan melepas jabatan. Sebab tugas untuk membasmi para monster serakah yang mencuri uang Negara, bukan tugas bagi manusia biasa. Sebab tugas untuk menegakkan keadilan meski langit runtuh, bukan tugas bagi manusia lemah dan pengecut. Sebab tugas itu, hanya bagi mereka yang tangguh, terpercaya, dan bernurani. Sebab tugas itu hanya bagi mereka, manusia yang memiliki jiwa dan semangat setengah dewa.

190611

berikan komentar untuk tulisan di atas, klik icon 'komentar kamu' dan beri 'nilai.'


Kutipan para eksistensialis

  • “The Ego is partly free. partly determined, and reaches fuller freedom by approaching the Individual who is most free: God.” (Muhammad Iqbal)
  • “Man is condemned to be free; because once thrown into the world, he is responsible for everything he does.” (Jean-Paul Sartre)
  • “Except our own thoughts, there is nothing absolutely in our power.” (Rene Descartes)
  • “Life has its own hidden forces which you can only discover by living.” (Soren Kierkegaard)
  • “Most people do not really want freedom, because freedom involves responsibility, and most people are frightened of responsibility.” (Sigmund Freud)